Dengan Menjadi Seorang Freelancer, Saya Bisa Menghidupi Keluarga Saya

Dengan Menjadi Seorang Freelancer, Saya Bisa Menghidupi Keluarga Saya

Hidup adalah tentang pilihan. Apapun yang kita pilih, pasti ada konsekuensi yang harus dihadapi. Sejak akhir tahun lalu, saya memilih untuk menjadi full-time freelancer. Freelancer, binatang jenis apa itu? Mungkin beberapa dari kalian ada yang belum pernah mendengar seputar pekerjaan ini, jadi mending saya jelasin yah. Freelancer adalah pekerja paruh waktu yang mempunyai fleksibilitas saat bekerja, karena kita gak perlu berangkat ke kantor, gak terikat dengan waktu kerja, bahkan bisa bekerja untuk beberapa perusahaan sekaligus.

Sebelum menjadi fulltime freelancer, saya merupakan seorang content writer di sebuah perusahaan. Awalnya memang ada sedikit ketakutan ketika memutuskan untuk menjadi pekerja lepas, tanpa berada di naungan sebuah perusahaan, tanpa mendapat gaji bulanan yang pasti, dan harus bergantung dengan project-project yang tak tentu. Kedua orang tua pun sempat merasa berat untuk menerima keputusan saya ini. Mereka merasa gak nyaman karena para tetangga sering menyangka saya adalah seorang pengangguran.

Gimana gak dianggap nganggur? Wong siang bolong ada di rumah, kalau orang tua ngajak kemana juga saya bakal ngikut. Pantes aja toh dikira kerja luntang lantung? Tapi berkat persiapan yang matang, kini saya mulai menikmati status saya sebagai fulltime freelancer. Saya bisa mengatur jadwal saya sendiri, kapan saya harus bekerja, dan kapan saya harus meluangkan waktu untuk keluarga.

Tentunya sebelum mengambil keputusan besar ini, banyak hal yang harus dipertimbangkan dan dipersiapkan. Berbulan-bulan saya terus searching pengalaman orang lain yang memutuskan untuk berhenti bekerja formal dan menjadi fulltime freelancer. Dari hasil riset saya, kira-kira hal berikut lah yang saya persiapkan.

Membeli sebuah laptop

Pertama-tama, yang saya perlukan adalah sebuah laptop. Karena saya kerja dari rumah, semua hasil pekerjaan harus saya kirim lewat online. Nah masalahnya, saya itu gak pernah punya laptop pribadi dari dulu. Waktu zaman kuliah, saya selalu pake laptop kakak saya. Setelah lulus dan masuk kerja, saya pasti dapet laptop dari kantor. Berhubung sekarang saya milih buat kerja independen, mau gak mau saya harus beli laptop sendiri.

Karena harga laptop jutaan dan saya gak mau menghabiskan semua uang dengan beli secara cash, akhirnya waktu itu saya milih buat kredit laptop. Sebelum saya resign, saya sempat nanya ke dua teman kantor yang pernah kredit laptop. Yang satu bilang kalau dia beli laptop di toko elektronik dan bayar dengan kartu kredit. Yang satu lagi cerita kalau dia kredit laptop di Tokopedia tanpa pakai kartu kredit, tapi pakai Kredivo. Berhubung saya gak punya kartu kredit, tentu saya lebih tertarik dengan cerita teman yang kedua.

Akhirnya saya tanya lebih banyak ke dia soal cicilan di Kredivo ini. Menurut teman saya, proses cicilan laptop dia kemarin gak ribet sama sekali. Setelah dengar ceritanya, saya lalu baca-baca informasi di https://www.kredivo.com/, ternyata gampang apply-nya. Cuma install aplikasinya dari smartphone kita, sambungin akun Facebook dan akun e-commerce yang udah punya riwayat transaksi, hubungin akun internet banking, selesai deh. Gak ada proses survei ke rumah atau ditelfonin berkali-kali. Setelah daftar akun, kurang dari sehari udah dapet notifikasi kalau pengajuannya diterima. Wah, pas banget nih buat saya yang butuh pinjaman cepat, daripada daftar kartu kredit kan? Makan waktu berbulan-bulan, banyak dokumen yang harus dikirim, belom tentu disetujuin pula.

Ternyata bunga cicilannya gak terlalu besar, cuma 2,95% per bulan. Tenornya mulai dari 3, 6, sampai 12 bulan. Limitnya juga sampai Rp20 juta. Lumayan banget buat beli barang-barang lain. Singkat cerita, akhirnya saya langsung daftar Kredivo di hari itu juga. Setelah saya tinggal tidur semaleman, besok siangnya pengajuan saya udah disetujui. Emang sih gak dapet limit Rp20 juta, tapi lumayan lah. Akhirnya, saya  ngikutin jejak teman saya untuk kredit laptop di Tokopedia pakai Kredivo. Alhamdulillah, 2 hari kemudian laptop yang saya pesan nyampe di rumah, dan masih berfungsi dengan baik sampai hari ini.

Menyiapkan dana cadangan

Saya itu orangnya suka was-was kalau soal uang. Saya akan lebih milih untuk gak jajan sebulan penuh tapi duit saya utuh daripada bisa beli banyak hal tapi gak punya simpenan sama sekali. Makanya, persiapan dana cadangan jadi hal yang esensial bagi saya ketika mau jadi freelancer. Kayak yang udah saya sebut di atas, freelancer itu dapet duitnya berdasarkan project. Kalau projectnya banyak, ya duit aman, tapi kalau sebaliknya, bisa aja gak makan…hehehe. Untuk siasatin masalah ini, sembari mikir-mikir jadi fulltime freelance atau engga, saya simpan gaji bulanan untuk dana cadangan selama 6 bulan ke depan. Karena pengeluaran bulanan saya sekitar Rp3jutaan per bulan, saya siapin dana cadangan sekitar Rp18 juta buat mengamankan kantong.

Mulai menjual portofolio

Setelah yakin untuk jadi fulltime freelancer, saatnya untuk melebarkan sayap dan mempromosikan diri melalui portofolio. Saya mulai mengumpulkan beberapa hasil tulisan saya dan jual diri di berbagai platform, mulai dari platform pencari pekerja freelance, LinkedIn, sampai menjadi kontributor di media-media online. Dari yang selalu menjemput bola, akhirnya belakangan ini ada beberapa perusahaan yang mulai approach duluan.

Memanfaatkan networking

Bagian yang ini juga gak kalah penting, karena selama menggarap project, sebagian besar dari project tersebut saya dapatkan melalui networking, seperti teman-teman mantan rekan kerja, dan teman sesama blogger atau kontributor. Karena sudah pernah bekerja dengan saya, mereka lebih gampang untuk percaya. Jadi, jangan meremehkan kekuatan silaturahmi ya 🙂

Hingga saat ini, hampir setahun sudah saya bekerja sebagai fulltime freelancer. Ternyata keputusan saya sudah tepat, dan inilah pekerjaan yang saya inginkan sejak dulu, menghidupi keluarga dengan bekerja secara individu kapan saja dan dimana saja, namun tetap penuh tanggung jawab. Itu dia pilhan hidupku. Lalu, apa pilihan hidupmu?